Postingan

Menampilkan postingan dengan label bahasa

🅛🅐🅡🅤🅣

Gambar
  Tampak mata mulai lelah memandang layar sampai memerah Tanpa keragu-raguan hal itu terus saja dilakukan jari-jemari tetap piawai menari-nari menaklukkan gawai Ada rasa resah di antara iba seperti ibu memandangi anaknya kegelisahan tampak begitu nyata dari raut wajah tersirat makna  terpendam ketakutan dalam maya Larut, lebih jauh memandangi rembulan dua kata hampir sama,  bersamaan dengan itu tampak begitu jelas makna di antara keduanya menjadi seorang pemimpin atau cukup jadi pemimpi Peradaban seperti apa yang akan diwariskan nanti yang katanya negeri ini mendapat jatah demografi Sewaktu masa anak-anak sudah terenggut kemerdekaannya dipaksa asik dengan dunianya, dicekoki robot-robot canggih kontrol moral dan etika serasa abai candu semakin membelenggu Bades, 18 Juni 2021

Redup

Gambar
Semakin hari, semakin redup Perihal krisis kepercayaan kepekaan menjadi tabuh jangan harap berempati, simpati pun syukur berharap dihormati tetapi enggan menghormati Pendidik hanya bisa tercengang melihat peradaban yang compang-camping hancur dihantam badai ketakutan Hidup lebih suka menyendiri membaur dengan barang mati Kepalsuan telah mendikotomi manusia Memasung potensi kebaikan di tengah kegelapan Sewaktu hati tepat diantara keinginan dan ego bak bulan berpresisi, mentari tertutup bumi Gerhana Bulan, 26 Mei 2021

Berkelindan

Gambar
  Di atas jalan menuju pulang seolah ada sesuatu yang mulai menuntun arah pikiran ku Mencoba menangkap makna dari setiap kejadian Mengkorelasikan atas setiap pengalaman Pagi menjelang pagi Sunyi selalu aku jumpai Sejauh ini, waktu telah menuntun langkah ku menemui keragaman di antara rimba,  penuh sesak dengan manusia Berceloteh tentang hari mengiringi pena dalam bercerita Mengasah kepekaan melindas ego dalam diri Moderasi guna menghargai lantunan bunyi yang termaknai Sewaktu jalanan mulai lengang tampak lampu penerang jalan Sesekali gelap mencekam hidup akan terus menantang Bayang mu akan selalu ada mengikuti mu bersama cahaya Berkelindan, menyusuri lorong panjang dan pergi untuk kembali Terus tebar kedamaian atas dasar kemanusiaan Kebebasan adalah rahmat tentunya tak elok memenjara perbedaan Membungkam, sama halnya merenggut kata-kata Kembalilah ke fitrah bukan kalah atau menang tapi atas dasar mencari kebenaran bukan kebenaran dari pembenaran Cahaya terletak di hati mu menu...

Muara Doa

Gambar
  Asa berkecamuk nurani bak tertusuk jalan sunyi tempat kembali hamparan cakrawala bernaung dalam nuansa alami Gegap gempita seolah di ujung tepi gelap gulita serasa lemah dan mati hanya kuasa ilahi Sang penentu misteri Dengan mata, tersimpan anugerah  lewat jiwa, Maha Perasa terilhami oleh semesta,  tetaplah tumbuh dan mencari Biarlah penafsir untuk menafsirkan karena ahli tafsir adalah kebiasaan menafsir yang tak semua bisa diterka yang tak semua harus sama Adalah ada dalam sebuah keadaan tetaplah hinggap berlalu-lalang hari kemarin hanya pengulangan saja sampaikan sampai pada muara doa Bades, 19 April 2021  

Bapak Ku Termangu

Gambar
  Bapak ku, Dia pecinta alam Tanpa harus naik turun gunung, Tanpa membawa tas beban di punggung Bapak ku sudah menjadi tulang punggung Perihal menanam,  Tanpa harus menunggu hari tanam tiba Bapak ku sudah sering kali memanen Apalah itu hari pohon sedunia,  apalagi hari pangan sedunia,  Bagi bapak ku menanam pohon tidak dihitung hari itu saja Bahkan hari pangan tidak mempunyai hari karena kita perlu makan setiap hari  Tanpa bidik kamera enggan membuat citra bapak ku tetap pergi ke sawah demi asap dapur biar tetap mengepul Bapak ku adalah seorang petani pergi pagi demi sesuap nasi  Kerja tanpa pamrih tapi sering kali disakiti  ketika tirani membuat kebijakan tanpa nurani Segala macam kebutuhan dipermainkan pupuk sulit didapatkan Biaya perawatan masih hutang hasil panen murah tak karuan Hutang bertambah tengkulak tersenyum ramah Apakah jadi petani harus selalu merugi?  Apakah jadi petani selalu menjadi bahan monopoli?  Perlahan, lahan pertanian ...

Rembulan Mengintip

Gambar
  Di atas temaram tengah kelabu Di samping jalan, sampah berserakan dibuang secara terang-terangan lalu pergi dengan acuh mencari tempat-tempat baru Sudah berkepanjangan,  alur tetap saja awur tanpa rasa iba membagi lara besenandung suka Tapi, bukan untuk kau!  wahai tempat penggembira Rembulan mengintip tepat di atas bukit menelaah suara negosiasi begitu arif Semilir angin pun sebenarnya telah menangkap makna Namun, dia enggan berpindah Terlihat cemara mulai risau sambil melambai-lambaikan tangan Seperti ikan mondar-mandir menunggu umpan untuk dimakan Demi apa?  Demikian Untuk apa?  untuk cita dan harapan Karena tong berharap sampah masuk dalam lingkaran angin mendesir, peristiwa tertangkap kusir pedati melaju, kuda terpacu Lumajang, 25 Maret 2021